Trip To Hong Kong [Day 4]: Macau – Museum, Food, and The Tower

Halo. Post ini adalah cerita lanjutan dari kisah perjalanan saya dan KangMan selama di Hong Kong dan Macau di pertengahan tahun 2016 ini. Kami tiba di Hong Kong saat hari sudah gelap, alhasil hari pertama kami habiskan dengan beristirahat di hotel saja. Di hari kedua kami menaklukkan Disneyland Hong Kong hingga malam hari. Dan di hari ketiga, kami berpindah lokasi ke Macau.

Hari ini adalah hari keempat kami berada di daratan Tiongkok. Itinerary hari ini agak longgar, karena tempat-tempat yang mesti kudu harus wajib di kunjungi sudah kami samperin kemarin. Hari ini kami awali dengan packing (again) dan pindah ke hotel kedua kami di Macau. Nama hotelnya, 5footway.inn project ponte 16. Hotel inilah yang paling membuat kami bahagia disepanjang perjalanan ini. Selain karena interiornya masih baru [Note: mereka baru saja renovasi tahun lalu], di hotel ini juga disediakan pantry, sofa super empuk, dan yang paling bikin tenang adalah bahwa hotel ini merupakan salah satu cabang dari hotel dengan nama yang sama di Singapura. Seakan dekat dengan rumah gitu ceritanya. Hahaha.. ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜† Untuk review 5footway.inn bisa dibaca disini ya..!

5footway.inn Project Ponte 16, Macau. The Lobby.

5footway.inn Project Ponte 16, Macau. The Lobby.

Setelah check in, naruh barang, dan โ€˜ngerampokโ€™ air di pantry hotel, kami langsung capcyus naik public bus ke Museum Grand Prix dan Museum Wine.

Dari 5footway.inn ke Museum Grand Prix dan Wine bisa dengan menaiki bus No. 3 dan turun tepat di depan museumnya. Sayangnya kami salah turun satu pemberhentian sebelum yang seharusnya. Alhasil jalan kaki deh. Hahahaha.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Macau's Museum

Museum Grand Prix dan Museum Wine ini letaknya di gedung yang sama. Kesan pertama begitu tiba di depan gedung ini adalah penjagaannya yang lumayan serius. Di depan gedung ada polisi yang jaga, yang saya dan KangMan tanyain untuk kroscek bener apa ga nya lokasi museum yang mau kita tuju. Begitu masuk ke dalam gedung, ada polisi lagi yang jaga, yang langsung nuntun kita buat turunin tangga. Di ujung tangga, ada polisi lagi yang dengan baik hatinya mengingatkan kami untuk โ€˜mind your stepsโ€™ karena ada jarak dari tangga satu ke yang lainnya. Gapapa juga si banyak polisi yang jagain, lumayan cuci mata liat yang bening-bening. Hahahahaโ€ฆ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ˜‰ [Trus langsung ga dikasih gaji bulanan sama KangMan. ๐Ÿ˜ ]

Museum pertama yang kami masukin adalah si Grand Prix Museum. Harga tiketnya GRATIS! ๐Ÿ™‚ Jam bukanya dari 10.00 sampai 20.00 dan tutup tiap hari Selasa. Museum ini dibuka pada tahun 1993 untuk memperingati ulang tahun ke 40 nya Grand Prix Macau, yang biasanya diadakan tiap tahun di Bulan November. Hingga saat ini, Grand Prix Macau telah menjadi ajang olahraga internasional yang menarik ribuan wisatawan dan peminat balapan untuk datang berkunjung ke Macau, untuk menonton โ€œGuia Raceโ€ dan โ€œFormula 3 Grand Prixโ€.

Grand Prix Museum

Sesuai dengan latar belakangnya, Museum Grand Prix menampilkan puluhan koleksi mobil-mobil balap dari seluruh dunia. Dari mobilnya Ayrton Senna hingga yang digunakan oleh Michael Schumacher. Buat lelaki-lelaki (dan perempuan) yang gemar sama balap-balap mobil, tempat ini wajib banget dikunjungi saat ada di Macau.

Grand Prix Museum

Next? Wine Museum.

Letaknya persis di ruangan sebelah dari Grand Prix Museum. Harga tiketnya juga GRATIS! ๐Ÿ˜‰ Jam bukanya juga dari 10.00 sampai 20.00. Mereka juga tutup di tiap Hari Selasa. Museum ini dibagi menjadi beberapa area; sejarah wine, penyimpanan wine, dan ruang pertunjukkan. Buat yang sama sekali tidak tahu tentang proses pembuatan wine, museum ini menyediakan penjelasan yang amat jelas sampai ke barrel-barrel (gentong-gentong) tempat penyimpanan anggur juga ada disini. Buat yang bisa minum wine, diakhir area museum disediakan juga wine testing. Pengunjung bisa icip-icip wine dari berbagai macam tempat dengan harga tertentuโ€ฆ [Maap saya lupa berapa harganya, yang pasti ga mahal koook]. Disini juga ada toko wine yang bisa dibeli buat oleh-oleh.

Wine Museum

Puas berkeliling adem-adem didalam gedung museum, kami pun beranjak keluar dan berjalan kaki menuju Macau Fishermanโ€™s Wharf.

Macau Fisherman's Wharf

Macau Fishermanโ€™s Wharf adalah taman bermain pertama bertemakan budaya dalam industri pariwisata di Macau. Letaknya tidak jauh dari Macau Outer Harbour Ferry Terminal. Taman ini tidak hanya pure theme park, tapi juga memiliki restoran, tempat pembelanjaan, dan penginapan di area yang sama. Untuk masuk ke dalamnya tidak dikenakan biaya. Kecuali kalau mau main permainannya.

Saya dan KangMan tiba di Macau Fishermanโ€™s Wharf sekitar jam 1 siang. Siang itu cukup panas. Menjadikan kami hanya berfoto sebentar di mascot nya Macau Fishermanโ€™s Wharf ini. Kami tidak berminat untuk menaiki wahana-wahana permainan dalam area ini karena review dari travelers yang tidak begitu memuaskan. Saran saya, buat yang mau kesini lebih baik di sore hari saja, menjelang malam. Sepertinya saat suasanya agak redup, banyak angin semilir, akan lebih memuaskan ke Fishermanโ€™s Wharf ini.

Macau Fisherman's Wharf

“Mascot”nya Macau Fisherman’s Wharf..

Selesai sudah petualangan kami di daerah Macau Peninsula. Setelah dari Macau Fishermanโ€™s Wharf, kami melanjutkan perjalanan melewati Cotai dan Taipa ke daerah Coloane. Sekilas tentang Macau bisa dibaca di post sebelumnya disini ya.. ๐Ÿ˜‰

Selain dendeng babi, makanan khasnya Macau adalah Portugese Egg Tart. Di berbagai toko oleh-oleh di sepanjang jalan dari Senado Square ke Ruins Of St. Paul banyak yang menjual Portugese Egg Tart ini. Harga satu kuenya kurang lebih sekitar MOP 10 saja.

Saya dan KangMan mencoba Portugese Egg Tart langsung di toko aslinya. Nama tokonya Lord Stowโ€™s Bakery. Cabangnya ada di Hotel Venetian dan juga di Hong Kong. Tapi kami pergi ke toko pertama bakery ini yang letaknya di ujung selatan Macau; Coloane. Bedanya egg tart di toko ini dan toko-toko lainnya terletak di bahan dasarnya. Kalau di toko sekitaran Senado Square katanya menggunakan minyak tertentu, sedangkan di Lord Stowโ€™s ini menggunakan margarin. Again, CMIIW ya.. ๐Ÿ˜‰ Katanya si, bila dibandingkan, lebih enak yang menggunakan margarin. Sayangnya saya tidak memakan yang menggunakan minyak jadi tidak bisa membandingkan rasanya. ๐Ÿ˜Ž

Lord Stow's Bakery

Harga satu egg tart lord stowโ€™s bakery MOP 9

Setelah beristirahat dikerimbunan pohon-pohon daerah Coloane, kami pun beranjak ke Macau Giant Panda Pavillion yang juga masih berada didaerah yang sama. Dari Lord Stowโ€™s Bakery tinggal naik public bus kembali menuju arah Taipa. Pemberhentian kami (lagi-lagi) terlewati ketika mau berkunjung kesini. Alhasil mesti naik bus lagi ke arah yang berlawanan karena kalau jalan kaki lumayah juauh.. ๐Ÿ˜ฆ

Toko souvenir sekaligus tempat membeli tiket untuk melihat pandanya.

Toko souvenir sekaligus tempat membeli tiket untuk melihat pandanya.

Tujuan utama kami ke Macau Giant Panda Pavilion tidak lain adalah untuk melihat si Panda. Tempat wisata ini sangat luas. Ada kandang burung dan binatang lainnya juga disini. Saat kami berkunjung, tak terlihat begitu banyak wisatawan yang ada disni. Mungkin karena mayoritas wisatawan lebih menitikberatkan ke daerah Macau Peninsula melihat Senado Square, Ruins Of St. Paul, dan kawan-kawan, dibandingkan dengan ke daerah ini.

Untuk melihat panda, pengunjung diharuskan membayar tiket sebesar MOP 10. Jam bukanya dari 10.00 sampai 17.00, dan ada istirahat sejam dari jam 13.00 sampai 14.00. Berbeda dari Museum Grand Prix dan Museum Wine yang tutup di Hari Selasa, Macau Giant Panda Pavilion ini tutup di tiap Hari Senin.

Sayangnya, panda yang ada disini cuma dua buah.. ๐Ÿ˜ฆ Kami tiba di ruangan pandanya sudah sekitar pukul 16.00 dan waktunya mereka makan. Kesedihan kami terobati ketika salah satu panda dengan lucunya menggosok-gosokkan pantatnya di salah satu batu dalam kandang. Gatel ya nda? Hahaha.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Duh, nda, kamu kotoooorr.. :(

Duh, nda, kamu kotoooorr.. ๐Ÿ˜ฆ

Menjelang malam, kami beranjak ke salah satu hotel dan kasino terbesar di Macau; Venetian. Kami (lagi-lagi) salah pemberhentian bus. Namun, kesalahan kali ini membuat kami memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam area kasino hotel venetian. Masuk ke kasino? Checked! Hahaha.. ๐Ÿ˜€

Venetian

Lokasi pertama yang kami tuju adalah foodcourt di lantai 3. Di foodcourt ini ada toko yang menyajikan makanan halal. Nama tokonya Indian Spice Express. Kami memesan Chicken Tikka Masala dan Chicken Tandoori masing-masing satu porsi. Untuk harganya, jangan ditanyakan, kami sudah tidak mau mengingatnya. Hahahaโ€ฆ ๐Ÿ˜ฅ ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜Ž Untuk rasanya, endesss benerrr!

Halal Food

Langsung habis, bersih tak da sisa.

Setelah perut kenyang, kami beranjak ke area gondola. Yang mau nyobain naik gondola, wahana ini buka dari jam 11.00 โ€“ 22.00. Harga tiketnya untuk dewasa MOP 128 dan anak-anak MOP 98. Bisa juga menyewa satu gondola sendiri seharga MOP 512.

Gondola

Sebelum menutup hari, kami sempatkan mampir ke Macau Tower yang arahnya juga searah jalur pulang, di Macau Peninsula. Macau tower ini buka dari jam 10.00 โ€“ 21.00 dengan harga dewasa MOP 135 dan anak-anak MOP 70. Buat yang bernyali tinggi bisa juga nyobain bungee jumping dari atas tower seharga MOP 3.288.

Kami menjadi beberapa orang terakhir yang naik ke gedung setinggi 100 lantai ini. Pemandangan dari atas saat malam cukup oke. Sayangnya susah mengambil gambar yang seoke penampakan aslinya. Huhuu..

View from the top of Macau Tower

View from the top of Macau Tower

Thatโ€™s it. Besok kami akan kembali packing di pagi hari untuk meneruskan perjalanan kembali ke Hong Kong. Ciao! ๐Ÿ™‚

Advertisements

Review Pearl Premium Guest House, Hong Kong

Salah satu penginapan โ€œmurahโ€ di Hong Kong berada di daerah Tsim Sha Tsui. Tepatnya di Nathan Road. Sepanjang jalan ini terdapat banyak sekali hotel maupun hostel dengan budget rendah. Tiga gedung yang cukup terkenal di area ini adalah Chungking Mansion, Mirador Mansion, dan Golden Crown Court. Dari ketiga gedung tersebut, banyak wisatawan mengatakan bahwa Golden Crown Court lah yang memiliki kehidupan yang lebih โ€œmanusiawiโ€.

Di Golden Crown Court sendiri terdapat banyak penginapan. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Golden Crown Guest House yang selain menyewakan kamarnya juga menjual tiket-tiket wisata dengan harga lebih murah daripada membeli langsung di lokasi wisatanya. Untuk memesan kamar dihotel ini, Anda harus menghubungi hotel via websitenya. Tentukan perkiraan tanggal check in dan check out, maka tidak berapa lama Anda akan menerima email konfirmasi ketersediaan kamar dengan harganya.

Karena mendengar review dari beberapa traveler tentang sepak terjang ketiga bangunan legendaris di Nathan Road ini, maka (tadinya) untuk penginapan di Hong Kong saya memilih untuk menyewa kamar di Golden Crown Guest House ini. Namun setelah berkomunikasi via email dengan pihak hotel, harga yang ditawarkan cukup membuat galau dibandingkan dengan harga yang beredar dengan syantieknya di website lain (read: Agoda/Booking). Hahaha.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Dengan bantuan dorongan dan semangat dari KangMan, akhirnya saya pun memesan salah satu penginapan di Mirador Mansion, yang katanya lebih โ€œmanusiawiโ€ dibandingkan dengan Chungking Mansion. Untungnya penginapan yang saya pesan ini sudah memiliki review lebih dari 1.000 penginap. Dan nilai reviewnya termasuk bagus, diatas 7. Jadi ya, kenapa tidak dicoba?

Mirador Mansion

Nama penginapannya adalah Pearl Premium Guest House. Untuk lokasi, penginapan ini cukup strategis. Dekat ke halte bus, stasiun MTR Tsim Sha Tsui, dan tentunya minimarket. Dari dan menuju bandara HKIA pun, kita dapat menggunakan bus A21 yang melewati Nathan Road tiap 10-15 menit sekali.

Posisi Mirador Mansion ada diantara Golden Crown Court dan Chungking Mansion. Lebih tepatnya diapit oleh money changer (dan toko kamera canon) serta toko perhiasan. Untuk menuju ke hotel, Anda tinggal masuk ke dalam gedung Mirador tersebut. Sekitar 10 meter, di sebelah kanan akan ada 2 buah lift yang masing-masing menuju ke lantai yang berbeda, ganjil dan genap.

Di dalam Mirador Mansion terdapat bagian terbuka sehingga lorong hotel tidak begitu sendu.Di dalam Mirador Mansion terdapat bagian terbuka sehingga lorong hotel tidak begitu sendu. Note: Gambar diambil dari http://travel.qunar.com/youji/5443986

Di dalam Mirador Mansion terdapat bagian terbuka sehingga lorong hotel tidak begitu sendu.Di dalam Mirador Mansion terdapat bagian terbuka sehingga lorong hotel tidak begitu sendu. Note: Gambar diambil dari http://travel.qunar.com/youji/5443986

Di Agoda, hotel ini beralamatkan di lantai 10. Namun beberapa review mengatakan bahwa resepsionisnya berada di lantai 16. Karena kami traveler kece nan cerdas, jadi kami langsung menggunakan lift genap untuk ke lantai 16. Kalaupun salah kan tinggal turun tangga, daripada mesti naik 6 lantai (dari lantai 10 ke 16) ya kaaaan? ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Keluar dari lift di lantai 16, tinggal ikutin lorong ke kiri. Di pojok paling kiri akan ada kamar dengan papan tulisan Pearl Premium Guest House di depannya. Tinggal di ketuk, atau dipencet belnya. Nanti pintunya otomatis akan dibukakan oleh pegawai didalamnya.

Di malam pertama kami di Hong Kong, penginapan yang kami pilih adalah Yotel Cha Cha yang berada di Golden Crown Court. Reviewnya bisa dibaca disini ya.. Ternyata dari sisi gedungnya, saya lebih menyukai gedung Mirador Mansion dibandingkan dengan Golden Crown Court. Lorong-lorong yang berada di Golden Crown Court posisinya di dalam gedung, tertutup, dan agak-agak spooky gimanaaa gitu. Kalau yang di Mirador Mansion, di tengah-tengah gedung adalah area terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat menjemur sprei dan sarung bantal. Ya walaupun pemandangannya juga tak indah, tapi suasananya lebih welcoming daripada Golden Crown.

Oke. Balik lagi ke Pearl Premium Guest House.

Ternyata memang benar apa yang di review traveler di beberapa website. Resepsionis hotel ini memang berada di lantai 16. Jadi kalau kamu-kamu sudah pesan hotel ini, langsung saja ke lantai 16 ya! ๐Ÿ™‚ Proses check in tidak susah, termasuk lancar malahan, dan tidak perlu ada deposit. Setelah check in, kami diantarkan oleh salah satu pegawai hotel ke kamar.

Deluxe Double Bed

Kamar yang kami pesan adalah tipe โ€œDeluxe Double Bedโ€. Dan lokasinya tidak berada di lantai 10 seperti yang tertera di Agoda. Jadi, sepertinya Pearl Premium Guest House ini memiliki beberapa unit rumah dalam satu gedung Mirador Mansion. Walaupun di lantai 10 juga ada kamar milik hotel ini, tapi kami diantarkan ke kamar yang berada di lantai 15, satu lantai dibawah resepsionisnya.

Kamar deluxe double bed kami cukup kecil. Jauh lebih kecil dibandingkan kedua kamar hotel yang kami inapi di Macau. [Reviewnya di Hotel Kou Va dan di 5footway.inn ya] Dan sedikit besar bila dibandingkan dengan kamar di Yotel Cha Cha. Namun, walaupun kecil, memang semua kebutuhan kami tersedia di kamar tersebut. Tempat tidur double bed, televisi, AC, kulkas, (bahkan) safety box, sandal jepit, kamar mandi dalam, dan gantungan baju tersedia disini. Walaupun televisinya tidak menangkap sinyal, dan suara tetesan air AC cukup mengganggu tidur kami. Huhuu.. ๐Ÿ˜ฆ

Kamar Mandi

Ukuran kamar mandinya super kecil. Meregangkan badan pun susah didalamnya. Hahaha.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ Tapi mereka tetap menyediakan sabun dan sampo cair serta hair dryer gratis di dalam kamar mandinya.

Kami menginap selama 2 malam di hotel ini. Pada hari kedua, sepulang dari jalan-jalan, kami mendapati kamar sudah dibersihkan dan handuk diganti dengan yang baru. Air mineral dan microwave juga disediakan secara gratis dihotel ini. Begitu pula dengan wifi.

Ketika check out, kami sempat menitipkan backpack di resepsionis tanpa dipungut biaya tambahan.

Ketika check out, kami sempat menitipkan backpack di resepsionis tanpa dipungut biaya tambahan.

Dari saya, hotel ini boleh dijadikan alternatif penginapan di Hong Kong. Selain karena harganya terjangkau, lokasinya juga strategis. 7,5 out of 10 adalah penilaian dari saya untuk penginapan ini.

Trip To Hong Kong [Day 3]: Going To Macau

Hari ketiga kami meninggalkan Indonesia dan kami sudah merindukan bubur ayam, nasi uduk, dan ketoprak. Hahaha.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ Saya dan KangMan sudah menghabiskan dua malam di Hong Kong. Di hari pertama, kami tiba sudah cukup malam dan memutuskan untuk beristirahat di hotel saja. Dan di hari kedua, kami menghabiskan satu hari di Disneyland. Di hari ketiga ini, saya dan KangMan akan menyebrang ke Macau.

Perjalanan kami diawali dengan check out dari Yotel Cha Cha, Tsim Sha Tsui. Review hotelnya disini ya.. ๐Ÿ˜‰ Kami keluar dari Golden Crown Court sekitar pukul 08.00 HKT. Dari hotel, kami akan menuju ke Hong Kong China Ferry Terminal untuk menaiki ferry menuju Macau.

Rute ke ferry terminal

Ada dua tiga ferry terminal yang bisa membawa kalian ke Macau. Yang terdekat dari penginapan saya adalah si Hong Kong China Ferry Terminal ini. Satu lagi Yang kedua ada di Hong Kong Island, namanya Hong Kong Macau Ferry Terminal. Dan yang ketiga ada di Tuen Mun Ferry Pier. Ketiganya melayani rute ke Macau dan ke Taipa. Dari Yotel Cha Cha ke Hong Kong China Ferry Terminal bisa dengan berjalan kaki.

Hong Kong China Ferry Terminal ini adanya dalam gedung perkantoran (CMIIW ya ๐Ÿ˜‰ ) atau sejenis shopping mall gitu. Saat berjalan menuju terminal, kita tidak akan melihat ferry atau laut disepanjang jalannya karena tertutupi oleh gedung-gedung. Saya dan KangMan juga sempat bingung mencari ferry terminal ini hingga terlihat petunjuk arah ferry terminal yang cukup besar diujung Canton Road.

Masuk ke gedung terminal kalian masih harus menggunakan lift untuk ke lantai 1, tempat dimana kita bisa membeli tiket ferry nya. Jangan kaget begitu keluar dari lift di lantai 1 nya ya.. Karena akan ada beberapa orang (calo) yang akan menawarkan tiket ferry dengan jam keberangkatan tercepat. Kalau kalian buru-buru, silahkan diambil. Kalau tidak, lebih baik membeli langsung dari counter ferry nya saja..

Ada dua pilihan provider ferry untuk menuju Macau; TurboJet dan Cotai Water Jet. Untuk kelas ekonomi, harga tiketnya hanya beda HKD 1, TurboJet di HKD 164 dan Cotai di HKD 165. Karena hotel kami ada di daerah Macau Peninsula, maka kami membeli tiket untuk ke Macau Outer Harbour Ferry Terminal. Tentu saja tiket yang saya dan KangMan beli adalah tiket dengan dengan harga yang paling murah, TurboJet. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜Ž

Counter TurboJet

Setelah membeli tiket, penumpang belum boleh langsung masuk ke area keberangkatan. Penumpang baru diperbolehkan untuk check in sekitar setengah jam menjelang jam keberangkatannya. Saat check in ini tiket kita akan ditempel oleh nomer kursi di ferry nya. Saya dan KangMan termasuk yang beruntung diberikan kursi untuk berdua yang dekat dengan jendela.

Di dalam kapal ferry nya. Penumpangnya penuh. Mayoritas chinese.

Di dalam kapal ferry nya. Penumpangnya penuh. Mayoritas chinese.

Setelah check in dan dikasih nomer kursi, langkah selanjutnya adalah melewati imigrasi Hong Kong, lalu menuju boarding gate dan menunggu pintu menuju ferry nya dibuka. Langkah-langkahnya sebelas dua belas deh dengan ketika kita mau berpergian dengan pesawat. ๐Ÿ˜‰

Estimasi waktu yang dibutuhkan untuk ke Macau, dari daerah Kowloon, kurang lebih satu jam. Kami mendapatkan tiket untuk jam 10.30 saat itu. Sekitar jam 11.30 kami sudah tiba di Macau. Turun dari ferry, kami langsung berjumpa dengan counter imigrasi. Alhamdulillah saya dan KangMan melewati imigrasi Macau pun dengan lancar jaya, tanpa ditanya, tanpa hambatan. Dan, lagi-lagi, cita-cita menambah stempel di paspor pun ludes, karena baik Hong Kong dan Macau hanya memberikan selembar kertas sebagai penanda masuk ke negara mereka, tanpa stempel di paspor. Huhuu.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜ฆ ๐Ÿ˜•

SEKILAS TENTANG MACAU

Macau terdiri dari tiga wilayah; Macau Peninsula, Taipa, dan Coloane. Macau Peninsula adalah pusat dari Macau, dan terhubung ke Pulau Taipa oleh tiga buah jembatan. Sementara itu, diantara Taipa dan Coloane ada daerah bernama Cotai, yang diambil dari singkatan COloane dan TAIpa, yang merupakan area dengan tanah hasil reklamasi. Di daerah Cotai inilah banyak terdapat hotel-hotel bintang lima lengkap dengan kasino-kasino mewahnya.

Macau dulunya merupakan jajahan Portugis. Jadi arsitektur kota, seni, agama, tradisi, makanan, dan masyarakatnya mencerminkan integrasi budaya Cina, Barat, dan Portugis. Sama seperti Hong Kong, Macau juga menjadi daerah administratif khusus Republik Rakyat Tiongkok, yang berada di bawah prinsip โ€˜satu negara, dua sistemโ€™. Karena itulah bagi WNI yang mau berkunjung ke Macau tidak memerlukan visa. ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ˜‰

Transportasi di Macau tidak semudah di Hong Kong. Opsi pertama untuk transportasi adalah menggunakan jasa shuttle bus gratis yang disediakan oleh berbagai hotel-hotel besar di Macau. Untuk shuttle bus ini akan kalian temui begitu keluar dari ferry terminal di Macau. Beberapa hotel akan dengan senang hati menerima penumpang yang bukan penginap. Namun ada beberapa juga yang memastikan apakah penumpang busnya sudah bertransaksi untuk hotel tersebut atau belum, jika belum, maka mereka tidak bisa menggunakan jasa bus hotel tersebut.

Salah satu shuttle bus gratis yang disediakan oleh Hotel Galaxy. Foto didapat dari https://www.hulutrip.com

Salah satu shuttle bus gratis yang disediakan oleh Hotel Galaxy. Foto didapat dari https://www.hulutrip.com

Opsi yang kedua, yang mayoritas saya gunakan, adalah dengan menaiki bus umum. Website yang sangat berguna adalah i-bus. Di website ini kita bisa melihat rute dan lokasi pemberhentian tiap bus di Macau.

Cukup seru naik bus umum di negara yang bahasanya tidak kita mengerti. Tips pertama, bila Anda memilih opsi ini, pastikan sebelum naik bahwa uang buat bus nya adalah uang pas. Supir tidak akan memberikan Anda kembalian jika Anda membayar dengan uang besar. Tips kedua, selalu baca papan petunjuk rute bus dan ingat (catat/foto) halte dimana Anda harus turun. Karena nama haltenya mayoritas dalam bahasa portugis, jadi saya sarankan lebih baik untuk memfoto saja papan rute busnya. Tips ketiga, selalu aware sama papan pengumuman pemberhentian di dalam bus, yang umumnya terletak di depan. Pengumuman pemberhentian akan diumumkan dalam tiga bahasa; mandarin (atau Cantonese?), portugis, dan bahasa inggris. Then, you all set and ready to go! ๐Ÿ˜‰

Untuk pembelian atau pembayaran, toko maupun bus di Macau menerima uang Hong Kong Dollar maupun Macau Patacas. Nilai perbandingannya 1 HKD = 1 MOP. Saran saya, tidak perlu menukarkan uang dalam bentuk Patacas, cukup gunakan saja uang Hong Kong Dollar yang dimiliki. Namun, untuk pembayaran, gunakan terlebih dahulu patacas nya karena mata uang ini tidak bisa digunakan selain di Macau.

Macau Tourism Information

Oke, balik lagi ke cerita.. ๐Ÿ™‚

Langkah pertama yang saya dan KangMan lakukan begitu keluar dari imigrasi Macau adalah menuju Tourism Information Center. Lokasinya ada didekat pintu keluar gedung terminal. Disini kita bisa mengambil free map sebanyak apapun. Disini juga saya, tadinya, mau membeli Macau Pass. Yap, hasil review traveler, di Macau juga ada kartu sakti serbaguna yang bersaudaraan dengan Octopus Card Hong Kong serta EzLink Singapura. Namanya Macau Pass. Fungsinya sama seperti saudara-saudaranya, bisa digunakan untuk transportasi maupun untuk belanja di minimarket. Sayangnya kartu Macau Pass ini amat sangat jarang ditemui. Info yang saya dapatkan dari kakak-kakak di Information Center, mereka tidak menjual si Macau Pass ini. Jika mau membeli, kita harus pergi ke gedung yang berada di depan ferry terminal. Katanya si dijual juga di 7-11, tapi kami tidak menemukan minimarket ini di dalam gedung terminal.

Untuk traveler yang berkunjung ke Macau hanya sehari dua hari, lebih baik tidak usah mencari dan membeli kartu ini. Selain susah ditemui, untuk pengembaliannya pun hanya bisa di lokasi-lokasi tertentu. Begitupun kesimpulan saya dan KangMan, karena lebih banyak ribetnya, kami memutuskan untuk membayar transportasi dengan uang cash saja. ๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜Ž

Ada dua hotel yang akan kami inapi di Macau. Hotel pertama adalah Hotel Kou Va. Reviewnya ada disini ya.. Menuju hotel ini bisa dengan menggunakan free shuttle bus dari Sofitel Ponte 16 atau dari Grand Lisboa. Tapi melihat dari hotel-hotel tersebut kami harus lumayan jalan lagi, maka kami memutuskan untuk menggunakan public bus saja.

Tampak depan Hotel Kou Va. Posisinya persis sebelah Villa Universal.

Tampak depan Hotel Kou Va. Posisinya persis sebelah Villa Universal.

Bus yang kami naiki bernomer 10 dan turun di Av. Alm. Ribeiro (Kam Pek Community Center). Selain Hotel Kou Va, buat yang menginap di Universal Hotel, Hotel Man Va dan Ole Tai Sam Un Hotel juga bisa menggunakan cara yang sama karena letak hotelnya sangat berdekatan.

Setelah check in dan cukup istirahat, kami lalu memulai berjalan-jalan di Macau. Daerah pertama yang kami jelajahi adalah Macau Peninsula.

Rute perjalanan

Hotel Kou Va – Senado Square – Saint Dominic’s Church – Ruins Of St. Paul – Macau Museum – Monte Fort – …and back to Senado Square.

Lokasi pertama yang kami singgahi adalah Senado Square. Senado Square dapat diibaratkan seperti pusat kotanya Macau. Disinilah wisatawan dari penjuru dunia berkumpul. Saat kami kesana pun, ada kelompok warga lokal yang sedang berdemo persis di depan Senado Square ini. Disekeliling Senado Square terdapat beberapa gedung ala eropa portugis yang masih terjaga keasriannya. Cocok banget buat foto-foto.. ๐Ÿ˜‰ ๐Ÿ˜ณ

Senado Square, foto diambil ketika balik dari Ruins Of St. Paul.

Senado Square, foto diambil ketika balik dari Ruins Of St. Paul.

Kami teramat bahagia ketika menemukan McDonaldโ€™s di salah satu gedung di Senado Square ini. Terlebih bahagia lagi ketika melihat papan menu, harga fish burger nya lebih murah daripada yang di Hong Kong! Hahahaโ€ฆ Penting iniii.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Dari Senado Square kami berjalan menuju Ruins of St. Paul. Sepanjang jalan terdapat beraneka ragam toko oleh-oleh makanan Macau. Mayoritas dari toko-toko itu akan menawarkan tester produk mereka kepada wisatawan yang lewat. Sayangnya mayoritas mereka menjual dendeng babi. Ga bisa ngereview deh jadinya.. ๐Ÿ˜Ž

Holy House Of Mercy

Macao Holy House Of Mercy

Di sebelah kanan dari Senado Square kita akan menemui The Holy House of Mercy yang merupakan sebuah lembaga sosial yang menurut Macao Tourism masih berfungsi sampai hari ini. Saya dan KangMan sempat ingin mencoba masuk ke dalam gedung ini. Tapi karena dikenai biaya [Iye, kita pelit!], dan hasil review yang tidak begitu memuaskan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Ruins Of St. Paul.

Bangunan berikutnya yang kami temui di jalan adalah St. Dominic’s Church. Bentuknya lumayan menarik perhatian dengan warna dindingnya yang bersinar. Di bagian belakang gereja ini ada tower untuk loncengnya yang sudah dimodifikasi menjadi Museum of Sacred Art yang menampilkan lebih dari 300 koleksi artefak, yang saya dan KangMan tidak masuki juga. ๐Ÿ˜†

Saint Dominic's Church

St. Dominic’s Church.

Akhirnya kami pun tiba di area Ruins Of St. Paul. Pada awalnya, Ruins Of St. Paul ini adalah gereja bernama Mater Dei yang didedasikan kepada Santo Paulus. Lokasi gereja ini ada diatas bukit. Lalu, pada tahun 1835, gereja ini terbakar. Sempat mengalami renovasi kembali, namun kemudian terbakar lagi. Bencana kebakaran yang terakhir menyisakan hanya bagian depan gereja saja yang utuh, yang hingga saat ini dijadikan salah satu tempat wisata wajib bagi yang berkunjung ke Macau.

Ruins Of St. Paul.

Ruins Of St. Paul.

Museum de Macau menjadi lokasi berikutnya yang kami kunjungi. Disini kami tidak masuk ke dalam museum, karena ada beberapa area museum yang sedang dalam masa perbaikan. Kami melewati museum de Macau ini untuk menuju ke Fortress Hill, dimana kita bisa melihat kota Macau dari atas.

Museum de Macau

Kami sempat beristirahat sebentar di sofa empuk yang tersedia di depan Museum de Macau, sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Senado Square menuju Hotel Grand Lisboa.

Dari Senado Square menuju Ruins Of St. Paul, dan sebaliknya, terdapat banyak toko-toko souvenir makanan asli Macau. Mayoritas diantaranya menjual dendeng babi, yang tidak bisa saya cicipi..

Dari Senado Square menuju Ruins Of St. Paul, dan sebaliknya, terdapat banyak toko-toko souvenir makanan asli Macau. Mayoritas diantaranya menjual dendeng babi, yang tidak bisa saya cicipi..

Senado Square - Grand Lisboa Hotel - Wynn Hotel

Senado Square – Grand Lisboa Hotel – Wynn Hotel

Kami tiba di Grand Lisboa Hotel menjelang gelap. Bentuk hotel ini cukup menarik dibandingkan dengan hotel-hotel berbintang lainnya di Macau. Kami hanya berfoto di area depan hotel saja karena akan meneruskan perjalanan ke Hotel Wynn.

Grand Lisboa Hotel. Mirip rumah Spongebob. #Loh?

Grand Lisboa Hotel. Mirip rumah Spongebob. #Loh?

Dari lisboa, kami menyeberang jalan menuju ke Hotel Wynn. Hotel ini memiliki beberapa atraksi yang lumayan oke untuk ditonton. Atraksi pertama yang kami saksikan adalah “Light & Water Show At Performance Lake”. Atraksi ini letaknya persis di depan lobi hotel. Pertunjukannya berlangsung dari jam 11.00 hingga 21.45 di tiap 15 menit. Katanya si di tiap pertunjukan ini menggunakan 800.000 galon air. Saran saya, datang kesini ketika hari sudah gelap. Pertunjukan yang hanya berlangsung selama 3 menit ini cukup oke untuk ditonton loh! ๐Ÿ˜€

Performance Lake At Wynn Hotel. Kalau malam hari ada lampu, api, dan musik yang oke punya.

Performance Lake At Wynn Hotel. Kalau malam hari ada lampu, api, dan musik yang oke punya.

Setelah menonton pertunjukan air mancur di lobi, kami masuk ke dalam hotelnya. Rencana kami adalah mau menonton atraksi “Dragon Of Fortune” dan “Tree Of Prosperity”. Tapi karena hotelnya yang besar, dan tidak ada peta petunjuk didalamnya, kami sempat jadi traveler ala-ala yang ilang. Untungnya mbak-mbak hotelnya baik, jadi kami bisa menemukan jalan kebenaran kembali… [Tssaaah…] ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Pertunjukan “Dragon of Fortune” ada di salah satu lobi yang letaknya di sebelah kiri dari lobi utama Hotel Wynn. Pertunjukannya ada dari jam 10.00 sampai tengah malam dengan selang waktu 30 menit antar pertunjukannya, ganti-gantian dengan si “Tree Of Prosperity”. Ceritanya, dari bawah tanah nanti pelan-pelan akan muncul naga besar yang diatraksikan dengan cahaya, suara, dan asap-asap yang bikin geli-geli gimanaaa gitu ๐Ÿ™‚ . Cukup nyeremin juga sii.. Tapi ga seserem si Grizzly Gulch nya Disneyland kemarin. Hahahaha.. ๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜‰

Dragon of Fortune

Setelah dari Hotel Wynn, kami terpaksa harus balik ke hotel karena kaki sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Sungguh beruntungnya kami saat mencari makan malam disekitar hotel. Ketemu supermarket eui! Daan,, bahagianya ketika ada indomie, oreo, serta richiese nabati halal yang diimpor langsung dari Indonesia terpampang nyata di salah satu rak. Okelah, ga ketemu ketoprak, bubur ayam, nasi uduk,, indomie pun jadi! Hahahaa.. ๐Ÿ˜€ ๐Ÿ˜€

Hari ketiga ini pun kami akhiri dengan makan malam indomie dan buah melon sebagai dessertnya.

Macau Tower tidak kesampaian dikunjungi di hari pertama kami di Macau..

Macau Tower tidak kesampaian dikunjungi di hari pertama kami di Macau..

PS: Situs Macau Tourism cukup membantu saya dalam merancang itinerary di Macau. Untuk transportasinya, situs I-Busnet dan Google Map yang membantu saya.