Tangkuban Perahu . . .


Tangkuban Perahu

Alkisah, beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan (aka Bandung) dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang putri, yang bernama Dayang Sumbi. Dayang Sumbi dikaruniai seorang anak yang gagah perkasa yang diberi nama Sangkuriang. Dari kecil hingga dewasa, Sangkuriang selalu ditemani bermain oleh seekor anjing bernama Tumang yang sebenarnya adalah ayah kandungnya.

Pada suatu hari Dayang Sumbi menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu rusa untuk keperluan suatu pesta. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang pun merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibunya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. Dayang Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.

Segera setelah pesta usai Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapi akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya. Dayang Sumbi menjadi sangat murka, dalam kemarahannya dia memukul Sangkuriang hingga pingsan tepat di keningnya. Atas perbuatannya itu Dayang Sumbi diusir keluar dari kerajaan oleh ayahnya. Untungnya Sangkuriang sadar kembali tapi pukulan ibunya meninggalkan bekas luka yang sangat lebar di keningnya. Setelah dewasa, Sangkuriang pun pergi mengembara untuk mengetahui keadaan dunia luar.

Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati. Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di dahi Sangkuriang, akhirnya dia menyadari bahwa dia hampir menikahi putranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir keras dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang: sebuah bendungan yang bisa menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Dayang Sumbi memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan yang dia dapat dari ayahnya untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang sebatang pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa pada dewa-dewa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.

Ayam jantan berkokok, matahari terbit lebih cepat dari biasanya dan Sangkuriang menyadari bahwa dia telah ditipu. Dengan sangat marah dia mengutuk Dayang Sumbi dan menendang perahu buatannya yang hampir jadi ke tengah hutan. Perahu itu berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu (perahu yang menelungkub). Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Bukit Tunggul. Bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air dan membentuk sebuah danau dimana Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini.

Yup! We were there...

Kisah ini dimulai oleh suatu “sindikat” yang anggotanya dipertemukan secara aneh dan ajaib. Diawali dengan niatan untuk survey lokasi tempat main paintball di Kota Bandung, di akhiri dengan terdampar di Gunung Tangkuban Perahu…👿  Yap! Awalnya,, mut kesana dengan Sisi dan Eko,, dua setongkol yang bersekongkol mencari tempat bermain paintball. Lalu,, mut kembali ke sana bersama jejaka-jejaka parahyangan;; Fathur, Afif, dan Azir.

Clockwise: Sisi, Mut, Thur, Azir, Afif, Eko

Menuju Tangkuban Perahu paling mudah dari Bandung. Jaraknya kurang lebih 20km. Dengan kendaraan pribadi, kita dapat mengarah ke Lembang hingga Pasar Lembang, lalu mengikuti jalur ke Tangkuban Perahu. Dengan angkutan umum, dapat ditempuh dengan terlebih dahulu menggunakan angkot ke Ledeng, lalu naik yang ke Lembang, dilanjutkan dengan angkot ke Tangkuban Perahu. Menuju kawah utama bisa dengan menyewa angkot, atau ojek. Harganya? Pandai-pandai menawarlah yaaa….😛

Tiket Masuk Tangkuban Perahu

Masuk lokasi dikenai tiket, untuk dewasa Rp. 13.000, kendaraan roda empat Rp 10.000. Untuk tiket anak-anak dan kendaraan roda dua,, syang sekali tak sempat terlihat. Antriannya sudah panjaaaaaaang,, dan papan tiketnya sangat keeeeeecil sekali hingga tak kuasa difoto. Huuhuuuuu….😥  Untuk wisatawan asing harganya beda dengan lokal.. sayangnya,, harganya pun tak terlihat juga… Huhuuuuu…

Ngapain aja sih di Tangkuban Perahu?

Atas: Kawah Ratu , Bawah: Kawah Upas

Biasanya siiiiiiih,,, wisatawan hanya mengunjungi kawah ratu, yakni kawah utama tangkuban perahu. Tapi overall, Tangkuban Perahu punya tiga kawah; domas, ratu, dan upas. Kawah ratu sendiri adalah kawah yang paling mudah didatangi. Lokasi parkir kendaraan, tempat jual souvenir, tempat makan, musola, dan toilet ada di daerah ini. Tak ketinggalan, kuda-kuda nan gagah perkasa yang dapat disewa untuk berkeliling pun ada disini.

Kesempatan kali ini, mut tak hanya ke Tangkuban Perahu untuk mengunjungi kawah ratu. Tapi target kali ini adalah juga kawah Upas dan Air Keramat. Hohoho…😆

Kawah Upas or Air Keramat?

Letak kawah upas tepat dibelakang kawah ratu. Medan yang dilalui untuk ke kawah ini cukup berat. Yaaaaa paling nda serasa jadi anak pecinta alam dikitlaaah on the way to the cauldron.😉 Begitu tiba di kawah upas,, bentuk lain Tangkuban Perahu terlihat sangat caaaaaantik sekali. Tantangan lain di kawah ini adalah “menulis nama dengan batu”. Which meaaaansss,, kita bisa turun sampai ke dasar kawah yang lebih datar dan lebih dangkal dibandingkan dengan Kawah Ratu daaaan,, di sanalah kita bisa menyusun nama kita dari runtutan batu-batu. Terbayang? Hmmmm….

Batu Nama Kami

Perjalanan Bandung – Tangkuban Perahu di hari Minggu memakan waktu kurang lebih satu jam. Perjalanan Kawah Ratu – Kawah Upas bisa ditempuh dengan jalan santai 2,5 jam. Mata sudah berkunang-kunang, perut sudah bernyanyi-nyanyi, dan kaki sudah berteriak.. Alhasil, perjalanan ke Air Keramat pun ditunda. Hujan pun turun menambah lelahnya raga inii… (Ahaaaay!)

Dan kami pun mengakhiri perjalanan Tangkuban Perahu ini…

Tangkuban Perahu

Jadi? Kapan kita paintballan ini teh? Euuuuuu…..🙄

8 thoughts on “Tangkuban Perahu . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s